Agama, Budaya dan Pendidikan Karakter Bangsa

Agama, Budaya dan Pendidikan Karakter Bangsa
Bagi bangsa Indonesia, agama adalah weltanchauung dan sebagai ideologi masyarakat dan bangsa Indonesia. Sebagai pandangan dunia (weltanchauung), manusia dan masyarakat Indonesia menjadikan agama sebagai nilai fundamental yang mendasari dan mengarahkan seluruh kehidupannya. Tidak mengherankan apabila Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia menjadikan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dan utama yangmenyinari keseluruhan sila-sila lainnya.
Dalam tulisan ini, penulis mendudukkan agama sebagai bagian integral dari kebudayaan dalam arti luas. Bukan berarti mengdegradasikan agama sejajar atau di bawah kebudayaan, justru melihat agama sebagai bagian integral dari keseluruhan hidup manusia Indonesia. Nilai-nilai agama menyinari dan mengarahkan nilai-nilai kehidupan lainnya atau integratif dengan nilai-nilai Pancasila sebagai keseluruhan termasuk dalam pendidikan nasional.
Pada 14 Januari 2010 telah diadakan Sarasehan Nasional dengan topik “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.” Menurut pendapat penulis Sarasehan Nasional itu menunjukkan dua sifat positif dalam menangani pendidikan nasional.
Pertama, untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama kebudayaan tidak lagi merupakan bagian yang integral dalam pendidikan nasional. Kebudayaan hanya merupakan bagian dari program pariwisata dengan orientasi untuk memperoleh devisa yang cukup melalui kegiatan pariwisata.
Seperti kita ketahui sudah sejak lama kebudayaan telah ditalak tiga dari pendidikan nasional dan merupakan bagian dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Kedua, untuk pertama kalinya masalah karakter bangsa atau watak bangsa mendapatkan sorotan dalam pendidikan nasional setelah sejak lama pendidikan nasional disibukkan oleh pengembangan aspek kognitif seperti Ujian Nasional (UN), World Class Education, World Class Curriculum dan sejenisnya yang membawa Agama, Budaya dan Pendidikan Karakter Bangsa pendidikan nasional entah ke mana.
Sementara itu masyarakat dan bangsa Indonesia seakan-akan kehilangan arah atau kehilangan masa depan. Keadaan ini seperti yang disinyalir oleh Yayasan Jatidiri Bangsa sebagai berikut.
Sifat ramah-tamah, sopan-santun, dan suka menolong yang sering dilekatkan pada kita ternyata telah mengalami dete-riorisasi atau perusakan yang cukup mencolok. Sifat ramah-tamah berubah menjadi sifat beringas, sifat sopan-santun berbalik menjadi kasar, berangasan, dan bar-bar, sifat suka menolong memudar menjadi egois dan hanya mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Sementara, perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan bukannya memperkokoh toleransi dan persatuan, tetapi malah memperuncing perbedaan.
Keadaan runyam yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia dewasa ini sebenarnya bertentangan dengan apa yang dimiliki oleh bangsa ini. Kita memiliki watak yang mulia atau nilai-nilai di dalam kehidupan bersama yang luhur tetapi nilai-nilai tersebut tidak terpancar di dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia dalam kehidupannya sehari-hari. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam berbagai tindakan kita sehari-hari dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.
Namun dewasa ini kita cenderung mencari dan menonjolkan perbedaan dan bukan memupuk kesamaan dengan mengak-tualisasikan kembali nilai-nilai yang kita sepakati bersama di dalam
membentuk masyarakat dan bangsa Indonesia.
Nilai-nilai itu tidak lain dari nilai-nilai Pancasila. Bukankah penggali Pancasila yaitu Bung Karno telah menggalinya dari budaya yang bhinneka dari masyarakat Indonesia?
Persoalannya sekarang ialah bagaimana caranya kita menguaktualisasikan tambang emas nilai-nilai Pancasila itu di dalam kehidupan bersama. Di dalam kehidupan bersama masyarakat Indonesia dewasa ini yang serba semberawut dari tingkah-laku orang dewasa Indonesia merupakan suatu refleksi dari kegagalan perkembangan orang-orang Agama, Budaya dan Pendidikan Karakter Bangsa dewasa itu dalam menghayati dan merealisasikan nilai-nilai Pancasila. Sejak Indonesia merdeka kita mengenal pendidikan budi pekerti sejak sekolah dasar sampai pendidikan tinggi. Demikian pula pada masa Orde Baru kita mengenal mata-mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Pemimpin-pemimpin yang sekarang dalam masyarakat Indonesia adalah hasil dari pendidikan budi pekerti dan PMP pada masa mudanya.
Mengapa mereka sekarang bahkan menjadi pelopor perpecahan di dalam masyarakat Indonesia? Menurut para pakar dan juga penulis sendiri keyakinan bahwa perilaku penyimpangan dari nilai-nilai Pancasila bukanlah disebabkan oleh karena nilai-nilai Pancasila itu telah mengalami kemerosotan makna tetapi kepada kekeliruan penerapan nilai-nilai itu di dalam kehidupan sehari-hari.4 Melalui program-program pendidikan tersebut yang dicantumkan di dalam kurikulum sejak pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, program pendi-dikan Pancasila dianggap semata-mata sebagai masalah guru, masalah kurikulum, masalah politik kekuasaan, dan bukan merupakan suatu ideologi yang telah disepakati bersama untuk dijadikan pedoman hidup yang harus direalisasikan setiap hari di dalam tingkah-laku setiap anggota masyarakat Indonesia. Masalah inilah yang coba diangkat kembali di dalam tulisan ini.
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Masyarakat dan bangsa Indonesia memerlukan kesatuan arah dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 1945. Kesepakatan arah tersebut telah kita ambil melalui kesepakatan kita bersama untuk menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman bersama.
Nilai-nilai bersama inilah yang mengikat, mengatur, dan mangarahkan tingkah-laku anggota masyarakat sebagai warganegara.
Kesatuan arah inilah yang akan membentuk masyarakat Indonesia yang diba-yangkan (imagined-community) menurut Anderson.5 Roh dari kesatu-an arah inilah yang dapat kita sebut watak bangsa Indonesia.
Dalam uraian selanjutnya akan dibahas mengenai titik-tolak darimana merumuskan watak bangsa Indonesia itu, apa makna watak bangsa dan bagaimana pengembangannya di dalam pribadi-pribadi anggota masyarakat Indonesia yang bhinneka.
Pasal 1. Makna Bangsa yang Cerdas dan Bermartabat
Dalam UUD 1945 pada Pembukaan (Preamble) dinyatakan sebagai berikut.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejah-teraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksana-kan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta dengan pewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Apa yang dinyatakan di dalam Pembukaan UUD 1945 itu? Pertama-tama tentunya dasar dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara ialah didasarkan kepada nilai-nilai Pancasila.
Kedua, bahwa salah satu tujuan dalam membentuk negara Indonesia ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Apa makna dari kehidupan bangsa yang cerdas? Pasal 31 Ayat (3) dirumuskan demikian: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Rumusan mengenai pendidikan nasional dengan jelas menyatakan bahwa kehidupan bangsa yang cerdas adalah kehidupan yang ditandai oleh keimanan dan ketakwaan yang anggota masyarakat, sesama warganegara. semakin meningkatkan serta terbentuknya Manusia yang berakhlak mulia adalah akhlak mulia. Jelaslah di dalam perumusan ini anggota masyarakat yang mem-punyai nampak bahwa pendidikan nasional diarahkan martabat atau kedudukan yang terhormat kepada pengembangan seluruh pribadi manusia sebagai anggota masyarakatnya dan Indonesia yang beriman dan bertakwa serta sebagai warganegara. Dia adalah seorang memiliki akhlak mulia.6 Dengan demikian yang bermartabat. Lebih-lebih lagi di dalam pendidikan nasional bukan pertama-tama hanya dunia yang semakin “rata”’ dan menjadi untuk pengembangan kognitif tetapi pembensebagai kampung besar (big village) metukan iman dan takwa serta akhlak. Inilah yang nuntut setiap orang untuk mempedulikan merupakan ciri utama dari pendidikan nasional. sesamanya baik dalam lingkungan Apakah hal ini berarti bahwa pendidikan keluarga, masyarakat etnisnya, masyarakat nasional menelantarkan pembentukan kognitif negaranya dan akhirnya terhadap peserta-didik? Didalam hal ini perlu kita masyarakat dunia. Inilah manusia yang mempunyai pengertian mengenai apa sememiliki akhlak mulia dan bermartabat baik benarnya yang dimasudkan dengan kehidupan pada tingkat lokal, nasional, maupun bangsa yang cerdas. global.3. Pengembang-an akal (IQ) yang dipadukan dengan pengembangan.
Bangsa yang Cerdas dan Bermartabat
inteligensi sosial (SI) dan inteligensi Apakah yang dimasudkan dengan suatu bangsa emosional (EI). Pada Ayat (4) Pasal 32 UUD yang cerdas dan bermartabat? Bangsa yang 1945 dinyatakan bahwa pemerintah cerdas mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. memajukan ilmu pengetahuan dan
1.      Beriman dan bertakwa sesuai dengan agama/ teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-kepercayaan yang dianutnya. Negara nilai agama dan persatuan bangsa untuk Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang kemajuan peradaban dan kesejahteraan Maha Esa dan oleh sebab itu mengakui dan manusia. Kehidupan modern dewasa ini menghargai akan kebebasan dengan kemajuan ilmu pengetahuan serta warganegaranya untuk menghayati dan khususnya teknologi komunikasi telah beribadah sesuai dengan agama dan mengubah wajah kehidupan bersama umat kepercayaannya itu. Tidak ada negara manusia di planet bumi ini. Oleh sebab itu demo-kratis yang tidak mengakui seorang warganegara dunia pada abad kekeragaman kepercayaan/agama yang perlu dikembangkan akalnya (aspek dianut oleh warganya. Negara Indonesia kognitif) serta moral kemanusiaan agar berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa supaya dia dapat mengikuti perubahan namun bukanlah negara Teokratis ataupun global yang sangat cepat yang dapat negara yang tidak mengakui Ketuhanan. mempengaruhi iman dan takwanya bahkan Demikian pula tidak ada satu pun agama/ juga dapat menggoyahkan akhlak mulia kepercayaan yang mengajarkan anggotanya yang dimilikinya. untuk menyepelekan hak-hak asasi . Bangsa Indonesia yang multikultural terdiri manusia termasuk hak asasi kebebasan dari lebih 700 suku bangsa dengan beragama. Manusia yang beriman dan taat budayanya masing-masing mempunyai terhadap agama/kepercayaannya tanggung jawab untuk mengembangkan mempunyai pan-dangan hidup yang nilai-nilai Pancasila dari kebera-gaman menghormati kehidu-pan termasuk kebudayaan Nusantara. Dengan demikian kehidupan sesama manusia yang berbeda. nilai-nilai Panca-sila akan lebih berkem
2.      Berakhlak mulia. Manusia yang berakhlak bang dan diperkaya sungguhpun pada mulia adalah manusia yang taat kepada hakikatnya nilai-nilai Pancasila telah digali perintah-perintah Tuhan serta menghar-gai dari kebudayaan Nusantara yang akan martabat sesamanya. la bukanlah multikultural, namun di dalam perkemmanusia yang dianggap musuh dari sesama bangan kehidupan dewasa ini nilai-nilai tersebut perlu diuji dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman.
Dengan demikian Pancasila bukan merupakan suatu dogma yang statis tetapi merupakan pandangan hidup yang dinamis yang terus berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.
Demikianlah gambaran sosok pribadi manusia Indonesia Pancasila yaitu seorang pribadi yang cerdas dan bermartabat. Dia seorang yang cerdas dalam menghadapi perubahan global namun di dalam sikap menghadapi perubahan-perubahan tersebut dia tetap mempunyai iman yang kuat serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa disertai dengan akhlak mulia yaitu tidak hanyut di dalam arus globalisasi yang tanpa bentuk yang dapat menggoyahkan keimanan dan ketakwaannya. Dia bukan seorang ortodoks atau fundamentalis tetapi seorang yang beriman dan
bertakwa, menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila yang telah digali dari kebudayaan Indonesia yang multikultural. Oleh sebab itu dia berdiri tegak dan tetap bangga akan keIndonesiaannya dalam menghadapi berbagai perubahan. Perubahan-perubahan tersebut tidak apriori mengha-nyutkannya atau menolaknya tetapi dia akan ikut-serta di dalam perubahan dengan berwatak atau berkarakter Indonesia.
Dengan demikian dia juga dapat menjadi seorang anggota masyarakat global yang dapat ikut menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan yang beradab dan bermartabat.