Eksistensi Dan Martabat Manusia

Eksistensi Dan Martabat Manusia
Sebelum Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama, alam semesta telah diciptakan-Nya dengan tatanan kerja yang teratur, rapi dan serasi. Keteraturan, kerapian dan keserasian alam semesta dapat dilihat pada kenyataan. Berupa keteraturan, kerapian dan keserasian dalam hubungan alamiah antara bagian-bagian didalamnya dengan pola saling melengkapi dan mendukung. Misalnya, apa yang diberikan matahari untuk kehidupan alam semesta. Selain berfungsi sebagai penerang diwaktu siang, matahari juga berfungsi sebagai salah satu sumber energi bagi kehidupan. Dari pancaran gerak edarnya yang bekerja menurut ketentuan Allah, manusia dapat menikmati pertukaran musim, perbedaan suhu antara wilayah dengan wilayah yang lain. Semua keteraturan dan ketentuan yang disebabkan sistem kerja matahari itu, pada perkembangannya kemudian memebentuk sistem keteraturan dan ketentuan lain yang telah ditetapkan oleh Allah. Misalnya iklim suatu daerah yang berpengaruh pada keanekaan potensi alam, jenis flora dan fauna yang tumbuh dan ada di daerah itu.

Keserasian, kerapian dan keteraturan yang kita yakini sebagai sunnatullah yakni ketentuan dan hukum yang ditetapkan Allah. Melalui sunnatullah inilah, bumi dan alam semesta dapat bekerja secara sistematik (menurut suatu cara yang teratur rapi) dan berkesinambungan, tidak berubah-ubah, tetap saling melengkapi. Misalnya, bagaimana matahari bekerja menurut ketentuan Allah. Sejak diciptakan sampai akhir zaman, insya Allah, matahari tetap berada pada titik pusat tata surya yang berputar mengelilingi sumbunya. Dalam proses itu, menurut penelitian para ahli, gerak matahari selalu ketiggalan 3 menit 56 detik dari bintang-bintang yang ada di tata surya. Karena keterlambatan itu, dalam 365 hari (jumlah hari dalam satu tahun) matahari sudah melintasi sebuah ligkaran besar penuh di langit.

Setiap waktu, secara teratur dan tetap matahari menyiramkan energi kepada alam semesta, tanpa bergeser dari posisi yang ditetapkan Allah baginya. Bumi, sebagai bagian alam semesta, menyerap sinar matahari yang turun secara tetap, tidak berubah-ubah.

Dalam lingkup yang lain, bisa pula dilihat bagaimana sunnatullah (ketetapan atau ketentuan-ketentuan Allah) berlaku pada benda atau makhluk lain yang sepintas lalu, dianggap tidak berguna, namun ternyata bermanfaat mempengaruhi benda atau makhluk lain. Lihatlah, bagaimana tumbuh-tumbuhan yang membusuk atau kotoran hewan yang memiliki sunnatullah pada dirinya sebagai pupuk untuk menumbuh suburkan tanaman.

Demikianlah kekuasaan dan kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya yang menyebabkan masing-masing bagian alam ini berada dalam ketentuan yang teratur rapi, hidup dalam suatu sistem hubungan sebab akibat sampai sampai ke benda yang sekecil.apapun, ketentuan Allah ada dan berlaku, baik secara mikrokosmos (berlaku terbatas pada zat benda kecil itu) maupun makrokosmos (sistem yang menyeluruh)

Sunnatullah atau hukum Allah yang menyebabkan alam semesta selaras, serasi dan seimbang dipatuhi sepenuhnya oleh partikel atau zarrah yang menjadi unsur alam semesta ini. Ada tiga sifat utama sunnatullah yang disinggung dalam Al-Qur’an yang dapat ditemukan oleh ahli ilmu pengetahuan dalam penelitian.

Ketiga sifat itu adalah : 1) Pasti,  2) Tetap, dan  3) Objektif
Sifat sunnatullah pertama adalah ketetapan, ketentuan, atau kepastian, sebagaimana diutarakan dalam Al-Qur’an berikut ini :

Q.S, Al-Furqon (25): 2, yang artinya :
“Dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”

Q.S At-Thalaq (65) : 3 yang artinya :
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (kepastian) bagi tiap sesuatu” 5

Sifat sunnatullah yang pasti, tentu akan menjamin dan memberi kemudahan kepada manusia membuat rencana. Seseorang yang memanfaatkan sunnatullah dalam merencanakan satu pekerjaan yang besar, tidak perlu ragu akan ketetapan perhitungannya dan setiap orang yang mengikuti dengan cermat ketentuan-ketentuan yang sudah pasti itu bisa melihat hasil pekerjaan yang dilakukannya. Karena itu pula, keberhasilan suatu pekerjaan (usaha atau amal) dapat diperkirakan lebih dahulu. Jika dalam pelaksanaannya suatu rencana atau pekerjaan orang itu kurang atau tidak berhasil, dapat dipastikan perhitungannya yang salah bukan kepastian atau ketentuan yang terdapat dalam sunnatullah. Manusia yang salah membuat suatu perhitungan atau perencanaan dengan mudah dapat menelusuri kesalahan perhitungan dalam perencanaannya.

Sifat sunnatullah kedua yaitu tetap, tidak berubah-ubah.
Sifat ini diungkapkan dalam Al-Quran sebagai berikut :

Q.S  Al-Isro (17): 77, yang artinya :
“Dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu”. 6

Sifat itu selalu terbukti dalam praktek, sehingga seseorang perencana dapat menghindari kerugian yang mungkin terjadi kalau rencana dilaksanankan. Dengan sifat sunnatullah yang tidak berubah-ubah itu seorang ilmuan dapat memperkirakan gejala alam yang terjadi dan memanfaatkan gejala alam itu. Karena itu seorang ilmuan dengan mudah memahami gejala alam yang satu dikaitkan dengan gejala alam yang lain yang senantiasa mempunyai hubungan yang konsisten.

Sifat sunnatullah yang ketigaadalah obyektif. Sifat ini tergambar pada firman Allah sebagai berikut :

Q.S. Al-Anbiya (21): 105, yang artinya :
bahwasanya dunia akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh” 7

Q.S Ar-Rad (13): 11, yang artinya :
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada oleh mereka sendiri”.

Saleh, artinya baik atau benar. Orang yang baik dan benar adalah “orang yang bekerja menurut sunnatullah”. Jadi sunnatullah-lah yang menjadi ukuran kebaikan dan kebenaran itu. Orang yang berkarya sesuai atau menurut sunnatullah adalah orang yang “saleh“ atau orang yang baik dan benar. Kesalehan yang dikarenakan telah menepati sunnatullah merupakan kesalehan umum (universal). Kesalehan universal ini sebagai sifat objektif secara / keilmuan, yang biasanya sangat signifikan dijumpai dikalangan para pengembang IPTEK dan para intelektual lainnya.. Mereka amat disiplin untuk mengikuti logika cerdas dan sehat dibantu dengan upaya pembuktiaan hipotesis yaitu penelitian (istiqra). Dengan demikian kebenaran yang terdapat dalam sunnatullah adalah kebenaran objektif, berlaku bagi siapa saja dan dimana saja. Untuk memperoleh predikat manusia saleh sekedar mentaati sunnatullah, berlaku pada semua manusia tidak terbatas bagi kaum agamis semata sebab, bagi yang tidak berkarya sebagaimana menurut keharusan aturan-aturan sunnatullah, seperti pemalas, tidak menempati prinsip kerja yang efektif-efisien-produktif dan lain-lain, tidak akan mendapat keberuntungan.

Dengan demikian sunnatullah itu berlaku objektif, karena tidak dipandang saleh bagi orang islam (misalnya) yang ingin kaya tapi pemalas. Karena orang islam tersebut tidak saleh terhadap sunnatullah.

Dengan kata “khalifah” Allah SWT memandatkan tanggung jawab kepada manusia untuk memakmurkan bumi dengan visi kekaryaan dan kepelayanan. Kekaryaan lebih dominan mentaati sistem sunnatullah dan kepelayanan lebih dominan mentaati system dinullah. Dengan kekaryaan dan kepelayanan atau ketaatan kepada kedua sistem tadi maka terbentuklah esensi manusia sebagai khalifah

Diketahui bahwa alam semesta diciptakan Allah dengan hukum-hukum yang berlaku baginya yang kemudian diserahkan-Nya kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan. Pengelolaan dan pemanfaatan alam semesta itu sendiri. Manusia yang diberi “wewenang” mengelola dan memanfaatkan alam semesta diberi kedudukan “istimewa” sebagai khalifah. “Khalifah” arti harfiahnya adalah pengganti atau wakil. Menurut ajaran islam, manusia, selain sebagai abdi diberi kedudukan sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam semesta terutama “mengurus” bumi ini. Agar dapat menjalankan kedudukannya itu diberi bekal berupa potensi diantaranya adalah akal yang melahirkan berbagai ilmu sebagai alat untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta mengurus bumi ini. Ketika Adam diangkat menjadi khalifah dibumi, Allah mengajarkan kepadanya ilmu pengetahuan tentang “nama-nama (benda)”, sebagaimana firman-Nya :

Q.S Al-Baqarah (2): 31, yang artinya :
Dia (Allah) telah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya”.

Pengetahuan yang diajarkan Allah kepada Adam ini merupakan keunggulan komparatif manusia dari makhluk-makhluk lainnya.

Dengan akal dan ilmu yang dikuasainya akan mampu menjalankan kedudukannya sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta mengurus bumi ini untuk kepentingan hidup dan kepentingan manusia serta makhluk hidup lain dilingkungannya. Untuk pelaksanaan kedudukan itu, manusia akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Manusia akan ditanya apakah dalam menjalankan “amanat” yang dipercayakan kepadanya itu, ia mengikuti atau tidak mengikuti pola dan garis-garis besar kebijaksanaan yang diberikan kepadanya melalui nabi dan rasul yang termuat dalam ajaran agama.

Berkenaan dengan alam semesta, Al-Qur’an banyak mengungkapkan tentang fenomena-fenomena alam yang menghubungkan manusia dengan Allah sebagai Pencipta. Ungkapan-ungkapan ayat-ayat Al-Qur’an tentang alam lebih banyak diarahkan kepada proses penghayatan terhadap kekuasaan Allah untuk mendorong manusia beriman kepada-Nya melalui pengamatan dan penelitian tentang alam semesta.


Dalam konsep Islam, alam adalah makhluk Allah yang diperuntukkan bagi manusia sebagai bahan yang mendorong manusia untuk menyelidiki dan meneliti fenomena alam sebagai bagian dari tugas kekhalifahannya, seperti tercantum dalam Al-Qur’an :

Q.S. Al-An’am (6): 165, yang artinya :
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan meninggikan sebagian dari kamu atas sebagian yang lain beberapa tingkat, untuk mengujimu atas apa yang telah diberikan-Nya kepadamu”.

Q.S. Al-Ghosyiah (88): 17-20, yang artinya :
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan”.

Kekhalifahan manusia berhubungan dengan kemampuan manusia menggunakan potensi alam yang dimilikinya dihubungkan dengan fenomena alam yang muncul disekelilingnya. Inilah sebenarnya yang menjadi latar belakang mengapa pencarian ilmu pengetahuan didalam konsep Islam merupakan sesuatu yang diwajibkan Allah. Orang berilmu akan memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk memerankan dirinya sebagai khalifah yang mampu mengelola dan mengambil manfaat yang benar bagi perwujudan sistem islam dimuka bumi ini.

Sehubungan dengan keharusan manusia untuk mengenal alam sekelilingnya dengan baik, maka Allah memerintahkan dalam firman-Nya :

Q.S Yunus (10): 101, yang artinya :
Katakanlah(wahai Muhammad) perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah beranfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. 

Q.S Ali Imran (3): 190-191. artinya :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan terbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : Ya Tuhan kami, tiadakah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka”.

Ayat ini memberikan penekanan kepada manusia untuk menyelidiki sifat-sifat dan kelakuan alam sekelilingnya yang menjadi tempat tinggal dan sumber hidupnya.Doa yang mengakhiri ayat diatas dapat dipahami secara kontekstual. Betapa orang yang tidak melihat hikmah alam raya ini, yang menganggap bahwa ciptaan Allah ini tidak berarti, mendapat sengsara di akhirat kelak, karena pandangan itu merupakan sikap pesimisme terhadap alam raya, yang juga merupakan bentuk penolakan (kufur) nikmat.

Fenomena alam itu, merupakan lapangan yang terbuka luas bagi penyelidikan, penelitian atau observasi manusia dalam rangka memahami dan membuka tabir keajaiban alam semesta ini. Pemahaman manusia ini adalah kunci yang dapat membuka pintu keyakinan akan kekuasaan Allah sebagai Pencipta seluruh alam semesta.
           


Hakekat Manusia Menurut Islam
Manusiaadalahmakhlukyang sangat menarik. Oleh karena itu ia telah menjadi sasaran studi sejak dahulu, kini dan kemudian hari. Hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan hidupnya. Para ahli telah mengkaji manusia menurut bidang studinya masing-masing, tetapi sampai sekarang para ahli masih belum mencapai kata sepakat tentang manusia. Ini terbukti dari banyaknya penamaan manusia, misalnya homo sapien (manusia berakal), homo economicus (manusia ekonomi) yang kadang disebut economic animal (binatang ekonomi) dan sebagainya. Al-Qur’an tidak menggolongkan manusia kedalam kelompok binatang (animal) selama manusia menggunakan akalnya dan karunia lainnya. Namun, kalau manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai urgensi pemberian Allah yang sangat tinggi nilainya yakni pemikiran (rasio), kalbu, jiwa, raga, serta panca indera secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi seperti hewan yang dinyatakan Allah di dalam Al-Qur’an :

Q.S Al-Araf (7): 17, yang artinya :
“Mereka (maksudnya manusia punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda) kekuasaan Allah, punya telinga tetapi tidak mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan bahkan lebih rendah (lagi) dari binatang itulah orang-orang yang lalai”.

Al-Quran mnyebutkan ‘manusia’ dengan kata :
‘Bani Adam’ (anak Adam, dalam terjemahan al-Qur’an)
Q.S : Al-Isra’ (17): 70
‘Basyar’ (manusia dalam kesamaan naluri dengan makhluk lain, menurut Ali Sariti). Q.SAl-Kahfi (18): 110
‘aL-Insan/Insan’ (manusia dalam perbedaan dengan makhluk lain, menurut Ali Sariti). Q.S
AL-Insan (76): 1
‘an’Nass/Nass’(manusia, dalam terjemah al’Quran)
Q.S An-Nass (114): 1

Berbagai rumusan tentang manusia telah dirumuskan oleh para ahli. Salah satu diantaranya, berdasarkan studi isi Al-Quran dan Al Hadits, yang maksudnya : Al-insan (manusia) adalah makhluk ciptaan Allah yang mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mangamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak.

Allah menciptakan manusia dari “shalshalkal fakkhar” (Lumpur) dari “hamain masnun“ (tanah hitam yan berbau busuk). Kemudian Allah menghembuskan ruh-Nya kedalam diri manusia ciptaan-Nya dan penciptaan lengkaplah sudah.22 Seperti firman Allah didalam Q.S. As Sajadah (32) : 8-10, yang artinya :

“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh ciptaan-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur

Makna simbolis pengertian diatas adalah bahwa manusia itu mempunyai dua dimensi. Dimensi Ketuhanan dan dimensi kerendahan atau kehinaan, sedangkan makhluk lain hanya mempunyai satu dimensi. Dalam pengertian simbolis ”Lumpur” menunjuk pada keburukan, kehinaan, tidak berarti, stagnan dan mati. Dimensi keilahian mengajak manusia cenderung untuk mendekatkan diri kepada-Nya, guna mencapai kemuliaan.

Karena hakikat kejadian manusia inilah, maka manusia pada satu saat mencapai derajat yang tinggi tetapi pada saat yang lain dapat meluncur dalam derajat kerendahan dan kehinaan yang sangat dalam dan paling rendah.

Kehormatan dan arti penting manusia terletak dalam kehendak bebas untuk menentukan arah hidupnya. Hanya manusialah yang dapat mengendalikan keinginan dan kebutuhan fisiologisnya, sehingga manusia dapat bebas menentukan berbuat baik atau jahat, patuh setia atau memberontak

Al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan an-nas bertalian dengan hembusan Ilahi atau roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang aturan ketentuan Allah.

Menurut pandangan Murtadla Muttahhari manusia adalah makhluk serba dimensi, Dimensi pertama, secara fisik manusia hampir sama dengan hewan, membutuhkan makan, minum, istirahat dan menikah, supaya ia dapat hidup, tumbuh dan berkembang. Dimensi kedua, manusia memiliki sejumlah emosi yang bersifat etis, yaitu ingin memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian. Dimensi ketiga, manusia mempunyai perhatian terhadap keindahan. Dimensi keempat, manusia memiliki dorongan untuk menyembah Tuhan. Dimensi kelima, manusia memiliki kemampuan dan kekuatan yang berlipat ganda, karena ia di karuniai akal, pikiran dan kehendak bebas, sehingga ia mampu menahan hawa nafsu dan dapat menciptakan keseimbangan dalam hidupnya. Dimensi keenam, manusia mampu mengenal dirinya sendiri. Jika ia sudah mengenal dirinya, ia akan mencari dan ingin mengetahui: siapa penciptanya ?, mengapa ia diciptakan?, dari apa ia diciptakan?,   bagaimana proses penciptaannya?  dan untuk apa ia diciptakan ?.

Eksistensi Dan Martabat Manusia
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan, sebagai khalifah-Nya di muka bumi, serta sebagai makhluk yang semi samawi dan semi duniawi, yang dalam dirinya ada fitrah mengakui Tuhan, bebas terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam semesta; serta karunia keunggulan atas alam semesta, langit dan bumi.

Sebagai makhluk Allah, manusia mendapat amanat Allah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan; wakil Allah di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam.

Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi khalifah, berarti manusia mendapatkan mandat dari Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran dimuka bumi. Kekuasaan mengolah serta mendaya gunakan apa yang ada dimuka bumi untuk kepentingan hidupnya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Allah.

Agar manusia dapat menjalankan kekhalifahannya dengan baik, Allah telah mengajarkan kepada manusia kebenaran dalam segala ciptaan-Nya, manusia dapat menyusun konsep-konsep serta melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam alam kebudayaan.

Disamping peran manusia sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki kebebasan, ia juga sebagai hamba Allah (Abdullah). Seorang hamba Allah harus ta’at dan patuh kepada perintah Allah.

Kekuasaan manusia sebagai khalifah Allah dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Tuhan baik yang tertulis dalam kitab suci al-Qur’an, maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-Kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawabannya terhadap penggunaan kewenangannya dihadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran :

Q.S Fathir (35): 39, yang artinya :
Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri.

Makna yang esensial dari kata ’abd (hamba) adalah ketaatan, ketundukan dan kepatuhan. Ketaatan, ketundukan dan kepatuhan manusia hanya layak diberikan kepada Allah yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan dan ketundukan pada kebenaran dan keadilan.

Dua peran yang dipegang manusia di muka bumi, sebagai khalifah dan ’abdun merupakan keterpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup yang sarat dengan kreatifitas dan amaliah yang selalu berpihak pada kebenaran.

Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami, bahwa kualitas kemanusiaan sangat tergantung pada kualitas komunikasinya dengan Allah dan kualitas interaksi sosialnya dengan sesama manusia melalui muamalah.

Pengertian Agama Dalam Berbagai Bentuknya
Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata ’din’ bahasa Arab dan kata ”religi” dari bahasa Eropa.Agama berasal dari bahasa sanskrit. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata, a = tidak, dan gama = pergi, kacau jadi arti agama tidak pergi dan tidak kacau, tetap ditempat, diwarisi turun menurun. Agama memang mempunyai sifat yang demikian. Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa agama berarti teks untuk kitab suci dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi Agama berarti tuntunan hidup bagi penganutnya.

Din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan patuh, hutang, balasan kebiasaan. Agama memang membawa peraturan-peraturan yang merupakan hukum, yang harus dipatuhi orang. Agama selanjutnya memang menguasai diri seseorang dan membuat ia tunduk dan patuh kepada Allah dengan menjalankan ajaran-ajaran agama. Agama lebih lanjut lagi membawa kewajiban-kewajiban yang kalau tidak dijalankan oleh seseorang menjadi hutang baginya. Paham kewajiban kepatuhan membawa pula kepada paham balasan. Yang menjalankan kewajiban dan patuh akan mendapat balasan baik dari Tuhan. Yang tidak menjalankan kewajiban dan yang tidak patuh akan mendapatkan balasan yang tidak baik.

Religi berasal dari bahasa Latin. Menurut satu pendapat asalnya ialah relegere yang mengandung arti mengumpulkan, membaca. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Allah. Ini terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Tetapi menurut pendapat lain kata itu berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia.Dalam agama selanjutnya terdapat pula ikatan antara ruh manusia dengan Allah dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan Allah.

Oleh karena itu agama diberi definisi-definisi antara lain sebagai berikut :
1.   Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.
2.   Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
3.   Ajaran-ajaran yang diwahyukan Allah kepada manusia melalui rasul.
Hubungan Manusia Dengan Agama
Agama bagi manusia merupakan kebutuhan alamiah (fitrah) manusia. Berbagai pendapat mengenai kefitrahan agama ini dapat dikaji pada beberapa pemikiran. Misalnya Einsten menyatakan bahwa sifat sosial manusialah yang pada gilirannya merupakan salah satu faktor pendorong terwujudnya agama. Manusia menyaksikan maut merenggut ayahnya, ibunya, kerabatnya serta para pemimpin besar. Direnggutnya mereka satu persatu, sehingga manusia merasa kesepian dikala dunia telah kosong. Jadi harapan akan adanya sesuatu yang dapat memberi petunjuk dan pengarahan, harapan menjadi pecinta dan dicintai, keinginan bersandar pada orang lain dan terlepas dari perasaan putus asa, semua itu membentuk dalam diri sendiri dasar kejiwaan untuk menerima keimanan kepada Tuhan. William James seorang filosof Jerman menyatakan bahwa kendatipun benar pernyataan bahwa hal-hal fisik dan material merupakan sumber tumbuhnya beberapa keinginan batin, namun banyak pula keinginan yang tidak bersesuaian dengan perhitungan-perhitungan material. Pada setiap keadaan dan perbuatan keagamaan, kita selalu melihat berbagai bentuk sifat seperti ketulusan, keikhlasan dan kerinduan, keramahan, kecintaan dan pengorbanan. Gejala-gejala kejiwaan yang bersifat keagamaan memiliki beberapa kepribadian dan karakteristik yang tidak selaras dengan semua gejala umum kejiwaan manusia.

Dari beberapa pendapat itu dapat dipahami bahwa manusia terutama orang dewasa memiliki perasaan dan keinginan untuk melepaskan diri dari wujud terbatas mereka dan mencapai wujud. Manusia tidak mungkin dapat melepaskan keterbatasan dan ikatan tersebut kecuali berhubungan dengan Allah sebagai sumber wujud. Melepaskan diri untuk mencapai sumber wujud ini menimbulkan ketenangan dan ketentraman seperti yang diungkapkan dalam firman Allah :

Q.S Ar Rad (13): 28 yang artinya :
”Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati jadi tentram.
           
Agama sebagai fitrah manusia melahirkan keyakinan bahwa agama adalah satu-satunya cara pemenuhan semua kebutuhan manusia. Posisi ini semakin tampak dan tidak mungkin dapat digantikan dengan yang lain. Orang mempercayai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi kebutuhan akan agama semakin mengecil bahkan hilang sama sekali, tetapi kenyataan yang ditampilkan sekarang ini menampakkan dengan jelas semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai manusia, kebutuhan akan agama semakin mendesak berkenaan dengan kebahagian sebagai sesuatu yang abstrak yang akan digapai manusia. Ilmu dan teknologi serta kemajuan peradaban manusia melahirkan jiwa yang kering dan haus akan sesuatu yang bersifat rohaniah. Kekecewaan dan kegelisahan batin senantiasa menyertai perkembangan kesejahteraan manusia. Satu-satunya cara untuk memenuhi perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan, itu dalam bentuknya yang sempurna dan memuaskan adalah perasaan dan keyakinan agama seperti diungkapkan dalam firman Allah :
Q.S Arum (30): 30,
Artinya : ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah diatas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Dari segi hubungan manusia dan Agama dapat ditelusuri melalui pemenuhan kebutuhan intelektual manusia sebagai makhluk yang memiliki akal pikiran atau rasio. Akal mendorong manusia untuk selalu ingin tahu tentang berbagai hal yang dilihat, diraba dan dirasakannya karena itu manusia seringkali disebut sebagai makhluk yang serba ingin tahu atau berfikir.

Dari keingin tahuan ini, manusia mencari dan menyelidiki apa yang ada disekelilingnya. Informasi tentang pengalaman-pengalaman dan jawaban-jawaban tentang apa yang diketahui menyebabkan manusia memiliki pengetahuan, teknologi dan budaya. Kendati pun demikian tidak berarti manusia memperoleh kepuasan, sebab sejalan dengan itu ada keinginan manusia untuk membuka tabir misteri yang tidak dapat dijangkau dengan pengalaman dan kemampuan akal semata-mata. Hal-hal yang luput dari indera dan akal manusia itu adalah persoalan ghaib yang berkaitan dengan masalah ketuhanan.

Manusia dengan pengalaman, perasaan dan pengetahuannya mempercayai adanya sesuatu yang supranatural. Dzat yang mengatur dan menguasai sistem kehidupan alam ini.

Perasaan ketuhanan pada dasarnya telah dimulai sejak manusia berada dalam peradaban kuno, yang dikenal dengan kepercayaan animisme dan dinamisme yaitu kepercayaan akan roh-roh halus melalui perantara benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan magis.

Mencari kebenaran tentang Tuhan ternyata tidak dapat diperoleh manusia melalui pikiran semata-mata, kecuali diperoleh dari Tuhan sendiri. Artinya informasi tentang Tuhan dinyatakan oleh Tuhan sendiri, atau dengan kata lain. Informasi tentang Tuhan diberitahukan oleh Tuhan sendiri bukan dipikirkan oleh manusia, sehingga dengan demikian informasi itu akan dapat diyakini kebenarannya.

Informasi tentang Tuhan yang datang dari Tuhan sendiri adalah suatu kebenaran yang mutlak, karena datang dari Tuhan sendiri. Hal ini dilukiskan dalam firman Allah :

Q.S AlBaqarah (2): 118, yang artinya :
”Dari orang-orang yang tidak mengetahui berkata : Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara kepada kami atau datang tanda-tanda kekuasan-Nya kepada kami ?. Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu : hati mereka serupa. Sesungguhnya kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan kami kepada kaum yang yakin”.
Informasi itu hanya diberikan kepada orang yang dipilih Tuhan sendiri, seperti firmannya :

Q.S Asy Syuun (42): 51, yang artinya :
“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dengan dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia Kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”

Orang yang dipilih Allah untuk menerima informasi atau wahyu itu adalah Nabi dan Rasul yang diberi jaminan oleh Allah sendiri untuk menginformasikan wahyu kepada manusia lain dengan sebenarnya, seperti difirmankan-Nya :

Q.S An Najm (53): 2-3, yang artinya,
“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur;an) menurut kemauan hawa nafsunya. tiadalah yang diucapkannya ttu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Dengan demikian jelaslah bahwa kebenaran tentang Tuhan dalam konteks Islam tidak datang dari pikiran manusia, tetapi datang melalui Tuhan sendiri melalui wahyu yang diterima salah satu manusia yang ditunjuk dan dipilih Tuhan sendiri. Jadi yakinlah bahwa informasi yang diterima manusia tentang Tuhan akan mutlak kebenarannya.