Pengertian Orientasi Wirausaha

Menurut kamus bahasa Indonesia (2008) istilah “orientasi” didefinisikan: 
(1) peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yang tepat dan benar; 
(2) pandangan yang mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan. 

Sedangkan istilah “wirausaha” yang dalam kamus bahasa Indonesia dikenal dengan wiraswasta adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya, atau orang yang menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru, merencanakan strategi usaha, merencanakan ide-ide untuk menangkap peluang usaha dalam upaya untuk mencapai kesuksesan usaha. Untuk memahami orientasi wirausaha, maka diperlukan pemahaman terhadap kewirausahaan dan aspek-aspek yang harus dimiliki dan dipunyai oleh orang yang berorientasi wirausaha.

Kewirausahaan
Istilah “kewirausahaan” kata dasarnya berasal dari terjemahan entrepreneur yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan arti between taker atau go-between. Pada pertengahan istilah “entrepeneur” digunakan untuk menggambarkan seorang aktor sebagai orang yang memimpin proyek produksi. Wirausaha dinyatakan oleh Joseph Schumpeter yang dikutip oleh Buchari (2007) sebagai orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru. Orang tersebut melakukan kegiatannya melalui organisasi bisnis yang baru ataupun yang telah ada. Dalam definisi tersebut ditekankan bahwa wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut.
Sedangkan proses kewirausahaan adalah semua kegiatan fungsi dan tindakan untuk mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan suatu organisasi. Istilah wirausaha dan wiraswasta sering digunakan secara bersamaan walaupun memiliki substansi yang agak berbeda. Scarborough, Norman M., dan Thomas W. Zimmerer (1993) dalam Buchori (2007) mengemukakan definisi wirausaha sebagai berikut:

An entrepreuneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainty for the purpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and asembling the necessary resourses to capitalize on those opportunities”.

Seorang wirausaha adalah orang yang menciptakan suatu bisnis baru di dalam risiko dan ketidak-pastian untuk mencapai keberhasilan laba dan pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang dan merangkai sumberdaya yang dijadikan modal untuk menangkap peluang.
Menurut Dun Steinhoff dan John F. Burgess (1993) dalam Suryana (2003) menyatakan bahwa secara esensi pengertian entrepreneurship adalah suatu sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan. Pada hakikatnya kewirausahaan adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Dari beberapa konsep yang ada, terdapat 6 hakikat penting kewirausahaan sebagai berikut (Suryana, 2003):

  1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acmad Sanusi, 1974).
  2. Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1994).
  3.  Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (Zimmerer et.al., 1996).
  4. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro, 1997).
  5. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative) dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi nilai lebih.
  6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. 
Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.

Berdasarkan keenam konsep di atas, secara ringkas kewirausahaan dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan perjuangan untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian untuk menghadapi risiko. Dari segi karakteristiknya perilaku wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya. Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai kemampuan normal, bisa menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Berwirausaha melibatkan dua unsur pokok, pertama, peluang dan, kedua, kemampuan menanggapi peluang. Berdasarkan hal tersebut maka definisi kewirausahaan adalah “tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif” (Pekerti dalam Suryana, 2003).

Menurut Hisrich-Peters (1995) dalam Buchari (2007) entrepreneur are not born-they develop. Pendidikan formal dan pengalaman bisnis kecil-kecilan yang dimiliki seseorang dapat menjadi potensi utama untuk menjadi wirausaha yang berhasil. Menurut Bygrave (1994) dalam Buchari (2007) ada beberapa faktor kritis yang berperan dalam menangkap peluang usaha, yaitu

1. Personal, menyangkut aspek-aspek kepribadian seseorang.
2. Sociological, menyangkut masalah hubungan dengan keluarga dsb.
3. Environmental, menyangkut hubungan dengan lingkungan

Apabila seseorang mempunyai ide untuk membuka suatu usaha baru, maka dia akan mencari faktor-faktor lain yang dapat mendorongnya. Dorongan-dorongan ini tergantung pada beberapa faktor, antara lain faktor keluarga, teman, pengalaman, keadaan ekonomi, keadaan lapangan kerja, dan sumber daya yang tersedia.

Faktor sosial yang berpengaruh terhadap minat memulai bisnis ini ialah masalah tanggung jawab terhadap keluarga. Faktor lain yang berpengaruh dalam membuka bisnis ialah pertimbangan antara pengalaman dengan spirit, energi, dan rasa optimistis. Biasanya orang-orang muda lebih optimistis, energik, dibandingkan dengan orang-orang yang sudah berumur. Oleh sebab itu, pembukaan usaha sebaiknya dilakukan pada saat seseorang memiliki optimistis dan sudah dipertimbangkan secara matang.

Model Proses Kewirausahaan
Model proses perintisan clan pengembangan kewirausahaan ini digambarkan oleh Bygrave (1994) dalam Buchori (2007) menjadi urutan langkah-langkah berikut ini:


1. Proses Inovasi
Beberapa faktor personal yang mendorong inovasi: keinginan berprestasi, adanya sifat penasaran, keinginan menanggung risiko, faktor pendidikan dan faktor pengalaman. Adanya inovasi yang berasal dari diri seseorang akan mendorong dia mencari pemicu ke arah memulai usaha.

2. Proses Pemicu
Beberapa faktor personal yang mendorong triggering event, artinya yang memicu atau memaksa seseorang untuk terjun ke dunia bisnis adalah

a.       Adanya ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang sekarang.
b.      Adanya pemutusan hubungan kerja (PHK), tidak ada pekerjaan lain.
c.       Dorongan karena faktor usia.
d.      Keberanian menanggung risiko.
e.       Komitmen atau minat yang tinggi terhadap bisnis.

Faktor-faktor lingkungan (environment) yang mendorong menjadi pemicu bisnis:
  1. Adanya persaingan dalam dunia kehidupan
  2. Adanya sumber-sumber yang bisa dimanfaatkan, misalnya memiliki tabungan, modal, warisan, memiliki bangunan yang lokasi strategis, dan sebagainya.
  3. Mengikuti latihan-latihan atau inkubator bisnis. Sekarang banyak kursus­-kursus bisnis dan lembaga manajemen fakultas ekonomi melaksanakan pelatihan dan inkubator bisnis.
  4. Kebijakan pemerintah, misalnya adanya kemudahan-kemudahan dalam lokasi berusaha ataupun fasilitas kredit, dan bimbingan usaha yang dilakukan oleh Depnaker.
Sedangkan faktor sosiologis (sociological) yang menjadi pemicu serta pelaksanaan bisnis:
  1. Adanya hubungan-hubungan atau relasi-relasi dengan orang lain.
  2. Adanya tim yang dapat diajak kerja sama dalam berusaha.
  3. Adanya dorongan dari orangtua untuk membuka usaha.
  4. Adanya bantuan famili dalam berbagai kemudahan.
  5. Adanya pengalaman-pengalaman dalam dunia bisnis sebelumnya.
3. Proses Pelaksanaan
Beberapa faktor personal yang mendorong pelaksanaan dari sebuah bisnis adalah sebagai berikut:
a.       Adanya seorang wirausaha yang sudah siap mental secara total.
b.      Adanya manajer pelaksana sebagai tangan kanan, pembantu utama.
c.       Adanya komitmen yang tinggi terhadap bisnis.
  1. Adanya visi, pandangan yang jauh ke depan guna mencapai keberhasilan.
4. Proses Pertumbuhan
  1. Proses pertumbuhan ini didorong oleh faktor organisasi antara lain:
  2. Adanya tim yang kompak dalam menjalankan usaha sehingga semua rencana dan pelaksanaan operasional berjalan produktif.
  3. Adanya strategi yang mantap sebagai produk dari tim yang kompak.
  4. Adanya struktur dan budaya organisasi yang sudah membudaya
  5. Adanya produk yang dibanggakan.
Sedangkan faktor lingkungan (enviroment) yang mendorong implementasi dan pertumbuhan bisnis:
  1. Adanya unsur persaingan yang cukup menguntungkan.
  2. Adanya konsumen dan pemasok barang secara kontinyu.
  3. Adanya bantuan dari pihak investor bank yang memberi fasilitas keuangan.
  4. Adanya sumber-sumber yang tersedia yang masih bisa dimanfaatkan.
  5. Adanya kebijakan pemerintah yang menunjang berupa peraturan bidang ekonomi yang menguntungkan.
Menurut Bygrave (1994): There are three crucial compo­nents for a successful new business: the opportunity, the entrepreneur (and the management team) and the resources needed to start the company and make it.

Ada tiga komponen penting untuk kesuksesan bisnis baru, yakni kesempatan, wirausaha (tim manajemen), dan sumber daya yang diperlukan untuk memulai membangun dan menumbuhkan perusahaan.

Oleh sebab itu, perlu disusun suatu gambaran fits dan gaps, bagaimana menggambarkan kesenjangan yang terjadi dan kesesuaian yang mungkin dibuat, dan memanfaatkan peluang yang tampak oleh pengambil inisiatif. Inilah yang disebut dengan rencana bisnis, di mana digambarkan ketiga komponen utama tersebut dipadukan menjadi suatu perencanaan strategis yang sempurna. Jadi, di sinilah pentingnya seseorang pengambil inisiatif, seseorang yang memiliki ide cemerlang yang dapat mereka laksanakan.
Seorang penanam modal bernama Georges Doriot menyatakan:

Always consider investing in a grade A man with a grade B idea. Never invest in a grade B man with a grade A idea (Bygrave, 1994, dalam Buchari 2007).

Pada penanaman modal selalu mempertimbangkan segi manusianya bukan idenya. Karena ide itu akan dilaksanakan oleh orang yang bersangkutan, yang akan menentukan keberhasilan usaha kelak di kemudian hari. Salah satu kunci sukses seorang wirausahawan adalah ia harus mempunyai watak yang baik. Menurut Ehinsie, et al, (dalam Buchari 2007) inti watak ialah orientasi.

Menurut John Adair (1996) dalam Hisrich, R.D. et al.(2005) ada kerancuan istilah antara entrepreneurship, intrapreneurship, entrepreneurial, dan entrepreneur.

  1. Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk  menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan baru, aktivitas kewirausahaan juga kemampuan managerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur.
  2. Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar.
  3. Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa   sumber   daya berupa tenaga kerja, material, dan aset lainnya pada  suatu   kombinasi   yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru. 
Melalui pengertian tersebut, terdapat empat hal yang dimiliki oleh seorang wirausahawan, yakni
1. Proses berkreasi yakni mengkreasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya.
2. Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan waktu dan usaha yang diberikan.
3. Memperkirakan resiko yang mungkin timbul.
4. Memperoleh reward. Dalam hal ini reward yang terpenting adalah kemandirian.
4.   Entrepreneurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha.

Definisi Orientasi Wirausaha
Wirausaha (entrepreneur) menurut Hisrich, R.D. et al. (2005) didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan aset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru. Seorang wirausaha memiliki karakteristik perilaku yang meliputi: pengambilan inisiatif, mengorganisasi, dan mengorganisasi kembali mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya dan situasi pada perhitungan praktis dan penerimaan terhadap risiko dan kegagalan.
Melalui pengertian tersebut, terdapat empat hal yang menjadi orientasi seseorang berwirausaha:

  1. Proaktif, yakni mengambil inisiatif untuk mengkreasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya. Pertambahan nilai ini diorientasikan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.
  2. Keberanian dalam mengambil risiko dalam mengimplementasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya. Risiko tersebut termasuk risiko waktu dan biaya semakin besar fokus dan perhatian yang diberikan dalam usaha ini, maka akan mendukung proses keberhasilan inovasi usaha.
  3. Memperkirakan risiko yang mungkin timbul. Dalam hal ini risiko yang mungkin terjadi berkisar pada resiko keuangan, fisik, dan risiko sosial.
  4. Memperoleh reward. Dalam hal ini reward yang terpenting adalah independensi atau kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi. Sedangkan reward berupa uang biasanya dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan usahanya.
Faktor pendorong kewirausahaan bagi wirausaha menurut Doriot adalah pentingnya aspek manusianya daripada idenya. Sebab ide itu akan dilaksanakan oleh orang bersangkutan yang akan menentukan keberhasilan usaha di kelak kemudian hari. Salah satu kunci seorang wirausahawan sukses adalah ia harus mempunyai watak yang baik. Menurut Ehinsie et.al. (dalam Buchari 2007) inti dari watak ialah orientasi.

Orientasi wirausaha merupakan karakteristik dan nilai yang dianut oleh wirausaha itu sendiri yang merupakan sifat pantang menyerah, berani mengambil risiko, kecepatan, dan fleksibilitas (Debbie Liao dan Philip Sohmen, 2001). Orientasi wirausaha menekankan pada semangat menciptakan inovasi usaha sebagai penyegaran dari kemacetan usaha yang sering mengiringi pada langkah awal inovasi (Zhou, et al, 2005). Dengan kata lain, pentingnya menjadi proaktif terhadap kesempatan-kesempatan baru, mendukung kemampuan perusahaan untuk menciptakan produk-produk, bukan hanya selangkah di depan pesaing tapi juga selangkah memahami keinginan konsumen (Slater dan Narver, 1994).

Sering kualitas proaktif mengharapkan substansi keuangan dan komitmen dari manajemen. Dengan risiko yang sudah wajar, perusahaan jasa berharap untuk dapat menjadi sumber dari setiap kesempatan yang mengakibatkan kerugian yang besar (Naman dan Slevin, 1993). Pada beberapa kondisi, antara teknologi dan pasar mengharapkan adanya inovasi. Jadi, kesimpulan penting dari orientasi wirausaha adalah bahwa perusahaan itu akan memasuki pasar baru atau yang sudah tersedia selangkah ke depan (Zhou, et.al, 2005)